Wednesday, 11 June 2014

Hadits-Hadits Dhoif tentang Ramadhan



Hadits-Hadits Dhoif tentang Ramadhan

Berikut kami nukilkan beberapa hadits dha’if (lemah) berkaitan dengan bulanRamadhan Segala puji hanya bagi Allah Ta`ala yang menjadikan bulan Ramadhan sebagai musim berlomba-lomba dalam kebaikan dan amal shalih serta musim dilipatgankannya pahala kebaikan. .

أولا : حديث شهر رمضان أوله رحمه و أوسطه مغفرة و آخره عتق من النار

“Permulaan bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan dan terakhirnya adalah pembebasan dari (siksa) naraka“ (Hadits Munkar)
@hadith nie kena check balik, adakah ianya mungkar atau dhaif. - uye
( Lihat, Kitab adh-Dhu`afa, oleh al-`Uqailiy, 2/162; al-Kamil Fi Dhu`afa ar-Rijal, oleh Ibnu `Adiy, 1/165; Ilal al-Hadits, oleh Ibnu Abi Hatim, 1/246; Silsilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah, oleh al-Albaniy, 2/262; 4/70 Pertama: )

ثانيا : حديث صوموا تصحوا

“Berpuasalah kalian semua niscaya kalian semua akan sehat “(Hadits Dh`if)

(Lihat, Kitab Tahrij al-Ihya`, oleh al-Iraqiy, 3/75; al-Kamil Fi Dhu`afa ar-Rijal, oleh Ibnu `Adiy, 2/357; asy-Syidzrah Fi al-Ahaadits al-Musytahirah, oleh Ibnu Thulun, 1/479, al-Fawaid al-Majmu`ah Fi al-Ahaadits al-Maudhu`ah, oleh asy-Syaukaniy, 1/259; al-Maqashid al-Hasanah, oleh as-Sakhawiy, 1/549; Kasyf al-Khafa, oleh al-`Ajluniy, 2/539 dan Silsilah al-Ahadits adh-Dha`ifah wa al-Maudhu`ah, 1/420Kedua:

ثالثا : حديث من أفطر يوما من رمضان من غير عذر ولامرض لم يقضه صوم الدهر وإن صامه

“Barangsiapa berbuka satu hari pada (puasa) Ramadhan tanpa ada udzur (sebab) dan (karena) sakit, maka dia tidak dapat menggantinya meskipun puasa satu tahun (penuh)“ (Hadits Dh`if)

(Lihat, Fath al-Bariy, oleh al-Hafidz Ibnu Hajar, 4/161; Misykaah al-Mashabih, tahqiq al-Albaniy, 1/626; Dha`if Sunan ath-Thirmidziy, oleh al-Albaniy, hadits no. 115; al-Ilal al-Waridah Fi al-Ahaadits, oleh ad-Daruquthniy, 8/270 Ketiga: )

رابعا : حديث إن لله عند كل فطر عتقاء من النار

“Sesungguhnya bagi Allah Ta`ala pembebasan dari(siksa)neraka pada setiap kali berbuka“(Hadits Dh`if)

(Lihat, Tanjiih asy-Syari`ah, oleh al-Kananiy, 2/155; al-Fawaid al-Majmu`ah Fi al-Ahaadits al-Maudhu`ah, oleh asy-Syaukaniy, 1/257; al-Kasyf al-Ilaahiy `An Syadiid adh-Dha`f wa al-Maudhu` wa al-Wahiy, oleh al-Thuraabilisiy, 12/230; Dzakhirah al-Huffaazh, oleh al-Qaisiraaniy, 2/956; Syu`abul Iman, oleh al-Baihaqiy, 3/304; dan al-Kaamil Fi Dhu`afaa ar-Rizal, oleh Ibnu `Adiy, 2/455)
Keempat:
خامسا : حديث لو يعلم العباد مافي رمضان لتمنت أمتي أن يكون رمضان السنة كلها

“Sekiranya semua hamba mengetahui apa yang terkandung dalam (bulan) Ramadhan sungguh ummat-ku akan berharap (bulan) Ramadhan menjadi setahun penuh “ (Hadits Dh`if)

(Lihat, al-Maudhu`at, oleh Ibnu al-Jauziy, 2/188; Tanjiih asy-Syari`ah, oleh al-Kanaaniy, 2/153; al-Fawaaid al-Majmu`ah, oleh asy-Syaukaniy, 1/254 dan Majma`u az-Zawaaid, oleh al-Haitsamit, 3/141 Kelima: )

سادسا : حديث اللهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان

“Ya Allah anugerahkan kepada kami keberkahan di (bulan) Rajab dan Sya`ban serta pertemukan kami (dengan) Ramadhan“ (Hadits Dh`if)

(Lihat, al-Adzkaar, oleh an-Nawawiy; Mizaan al-I`tidal, oleh adz-Dzahabiy; Majma`u az-Zawaaid, oleh al-Haitsamiy, 2/165 dan Dha`if al-Jami`, oleh al-Albaniy, hadits no. 4395 Keenam: )

سابعا : حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول عند الإفطار : اللهم لك صمت و على رزقك أفطرت

“Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan atas rizeki-Mu aku berbuka“ (Hadits Dh`if)

(Lihat, Khulashah al-Badar al-Munir, oleh Ibnu al-Mulqin, 1/327, hadits no. 1126; Talkhiish al-Khabir, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, 2/202, hadits no. 911; al-Adzkaar, oleh an-Nawawiy, hal. 172; Majma`u az-Zawaid, oleh al-Haitsamiy, 3/156; dan Dha`if al-Jami`, oleh al-Albaniy, hadits no. 4349 Ketujuh: Do'a Berbuka: )

ثامنا : حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : لكل شيء باب ، وباب العبادة الصوم

“Setiap sesuatu (memiliki) pintu, dan pintu ibadah adalah puasa“

Hadist ini dinukil oleh Abi Syuja` di dalam al-Firdaus, no. 4992 dari hadits Abu Darda` dan menurut Syaikh al-Albaniy hadits ini lemah di dalam kitabnya adh-Dha`if, no. 4720)
Kedelapan:
تاسعا ـ حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : نوم الصائم عبادة

Kesembilan: “Tidurnya seorang yang berpuasa adalah ibadah“

(Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Shaid di dalam Musnad Ibnu Abu Aufa, no. 43 dan al-Baihaqiy di dalam asy-Syu`ab, no. 3937-3939 dari hadits Abdullah bin Abi Aufa, dan Abu Nu`aim di dalam al-Hilyah, 5/83 dari hadits Ibnu Mas`ud; dan as-Sahmiy di dalam Tariikh Jurjaan, hal. 370 dari hadits Muhammad bin Ali bin Husain al-Hasyimiy.)

Hadits ini dilemahkan oleh al-`Iraaqiy di dalam al-Mughniy, no. 727; dan as-Suyuthiy di dalam al-Jami` ash-Shaghir, hal. 188; dan telah membenarkan al-Munawiy di dalam al-Faidh, no. 9293 dan Syaikh al-Albaniy sepakat dengan keduanya di dalam adh-Dha`if, no. 5972 )

عاشرا ـ حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : الصوم نصف الصبر

“Puasa adalah separuh dari kesabaran“

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidziy di dalam as-Sunan, no. 3519; dan ad-Daarimiy, no. 659; Imam Ahmad, di dalam Musnad, 4/260; dan al-Marwaziy di dalam Ta`zhimi Qadri ash-Shalah, no. 432 dari hadits seorang laki-laki dari Bani Sulaim


Kesepuluh: .

الحادي عشر ـ حديث أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول : الصبر نصف الإيمان

Kesebelas: “Puasa adalah separuh dari keimanan“

(HR. Abu Nu`aim di dalam al-Hilyah, 5/34; dan al-Khathib di dalam Tariikhnya, 13/226; dan Ibnu al-Jauziy di dalam al-`Ilal, 1/815 dari hadits Abdullah bin Mas`ud secara bersambung)










_ jom bersama ISLAM_

1 comment:

  1. Al-Imam al-Nawawi ada menyebutkan:
    Para ulama dari kalangan ahli Hadis, ahli Feqh dan selainnya berkata: Dibenarkan dan disukai beramal dengan hadis Dhaif dalam hal2 fadha'il serta targhib dan tarhib, selama hadis itu tidak berstatus maudhu' (palsu). (Al-Azkar, hal. 5)

    Fadha'il bermaksud bermaksud hadis2 yang menyatakan kelebihan beramal. Targhib ialah hadis yang mengandung galakan untuk berbuat baik. Dan tarhib pula adalah yang mengandungi ancaman bagi mereka yang berbuat jahat dan maksiat.

    Catatan kaki di dalam al-Azkar ada menyebutkan:
    "Perkataan al-Nawawi: (Selama hadis itu tidak berstatus maudhu'): Termasuk hadis yang terlalu dha'if. Maka tidak boleh beramal dengan hadis yg di dalamnya terdapat rawi yang pendusta atau tertuduh dusta. Dan, ada lagi dua syarat untuk beramal dengan hadis Dha'if, iaitu: Sesuatu amalan itu hendaklah mempunyai syahid yang lain (ada dasarnya dari nash lain yang sahih) seperti ia berada di bawah suatu nash yang umum atau di bawah satu kaedah umum. Ketika beramal dengan hadis ini hendaklah tidak di-Iktikadkan bahawa ia sabit (dari Rasulullah s.a.w.). Malah, hendaklah di-iktikadkan sebagai ihtiati (langkah berjaga2) sahaja." (ibid.)

    ReplyDelete

Note: only a member of this blog may post a comment.

Follow me by Email

Pages

Blogger news

Powered by Calendar Labs

Blogger templates

Pages - Menu

Tinggalkan pesanan anda =)